Cerita Oven Toasterku dan Seni Berberes ala Marie Kondo


Kali ini aku ingin bercerita, bisa dibilang sebenarnya ini cerita simple sih, tapi aku merasa ingin menceritakan kalian apa yang aku rasakan dan semoga bermanfaat.

Baru - baru ini aku membaca buku The Life Changing - Magic Of Tidying Up karangan Marie Kondo. Mungkin di social media lebih ramai dengan metode penyimpanan ala Konmari. Sebenarnya buku ini tidak hanya tentang seni berberes dan merapikan rumah. Ada bagian dalam buku ini yang menurutku cukup unik yaitu memperlakukan barang seperti layaknya makhluk hidup menghargainya sehingga membuatnya bersinar kembali dengan berbagai cara.

Nah yang aku mau ceritakan kali ini bukan tentang menata dan menyimpan, tetapi tentang menghibahkan barang kepada orang lain, entah dengan memberikan secara percuma, menjual atau membuang supaya dipungut oleh pemulung sampah. Yap akhir - akhir ini aku sedang mensortir barang - barang dirumahku. Kegiatan sortir menyortir ini menjadi tidak mudah bagiku ketika barang yang harus di sortir memiliki nilai, seperti elektronik atau furniture.

Magic Of Tidying Up
Foto Oven Toaster saat belum dijual


Kemarin aku baru saja menjual sebuah Oven Toaster yang aku sertakan fotonya diatas ini. Oven ini sebenarnya adalah hadiah dari seorang teman. Pada awal aku menerima Oven ini tentu senang sekali. Tetapi selang beberapa waktu kemudian ketika aku mencoba menggunakan oven ini, entah sepertinya oven ini tidak cocok bagiku. Aku selalu merasa oven ini terlalu kecil, kurang sempurna karena tidak adanya fitur pengatur suhu. 

Aku bukanlah orang yang pernah membuat kue sebelumnya. Dan ketika ingin mencoba resep - resep baking yang aku temukan, aku selalu bermasalah karena pada resep selalu ditulis atur suhu, padahal oven yang aku miliki tidak ada pengatur suhunya. Akhirnya aku menyerah untuk membuat kue dengan oven ini.

Pernah sekali aku mencoba menghangatkan makanan menggunakan oven ini malahan gosong hasilnya, dan kembali aku menggerutu dengan hasil kerja oven ini. Total aku cuma menggunakan oven ini 3x, menghangatkan tadi, kemudian membuat Mashed Potato Bakar dan itupun kurang puas dengan hasilnya, yang terakhir cuma memanggang sebuah roti tawar. Akhirnya oven ini terbengkalai dirumahku, plus setiap melihatnya aku merasa suram, karena merasa barang elektronik bernilai tapi tak terpakai.

Setelah menimbang - nimbang akhirnya aku putuskan menjual oven tersebut. Itupun aku tidak yakin oven ini akan segera laku terjual karena aku merasa oven ini banyak kekurangan. Setelah memasang iklan di OLX selama 11 hari, akhirnya ada seseorang yang menanyakan oven ini. Setelah chat beberapa saat, kitapun sepakat dengan harga yang aku berikan dan meluncurlah oven ini ke rumah pemilik barunya yaitu kemarin 26 Agustus jam 21. Chat, transfer dan kirim di hari yang sama. Disisi lain saat menjual oven ini aku merasa khawatir, bisa saja pemilik barunya ini juga kecewa dengan oven yang dipinangnya.

Hari ini 27 Agustus sekitar jam 14.00 si pemilik oven yang baru mengirimiku pesan, dia mengirimkan 3 buah foto, yaitu 2 foto saat dia proses baking dan 1 buah foto saat cookies cantik buatannya selesai.  Sembari menyertakan pesan tertulis "Ce udah saya coba, ovennya gak ada masalah". 


Praktek Marie Kondo

Praktek Kon Mari

Praktek Buku Marie Kondo



Astaga aku merinding membacanya, apa yang telah aku nilai selama ini sebagai Oven tak bernilai, ternyata di tangan orang yang tepat Oven ini menjadi bermanfaat dan menghasilkan cookies yang mungkin membuat bahagia si pemilik oven ini juga. Sungguh aku merasa bahagia ternyata Oven ini telah jatuh ke tangan yang tepat. Dia tidak lagi teronggok di sudut rakku, dimana setiap hari aku dalam hati selalu menggerutu ketika melihat dia. Saat ini mungkin oven ini bahagia di pemiliknya yang baru karena dia telah bermanfaat kembali seperti seharusnya.

Aku benar - benar tak habis pikir, ternyata benar yang dituliskan Marie Kondo dalam bukunya, mempraktekkan Tidying Up tidak hanya tentang seni berberes rumah, tapi juga bisa membuat kita bahagia dan mengubah kehidupan kita secara keseluruhan. Ini bukan tentang materi hasil menjual oven itu, tapi lebih kepada perasaan bahagia yang aku dapatkan saat menerima foto bahwa Oven ini telah bermanfaat untuk seseorang.

Terimakasih telah membaca tulisan ini... 

 

Posting Komentar

21 Komentar

  1. Nah aku tuh berpikiran mau menjual beberapa perabotan juga deh. Sayang masih rapih didalam kardus tuh. Makasih idenya Mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba drpd nganggur dia kasian jg 😁 yg ada malah rusak

      Hapus
  2. Aku jadi ikutan terharuu..
    Ternyata bener yaa...kalau kita menyerahkan barang yang selama ini mungkin kurang bermanfaat, bisa jadi di orang lain malah bermanfaat banget.

    Semoga oven tersebut menjadi keberkahan bagi pemilik barunya.

    BalasHapus
  3. Kalau aku untuk saat ini praktik Marie Kondo praktekinnya di baju, nih. Emang bikin tertata banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ini pe er aku berikutnya harus berguru sm kmu nih

      Hapus
  4. MasyaAllah ya Kak lebih bikin merasa kita bisa bermanfaaat tuh beda ya. Orang lain bisa senang dengan apa yang menurut kita gak fungsi bikin hepi.

    BalasHapus
  5. Wah.. aku ikutan senang Ce.

    Terkadang saat aku kasih barang ke orang lain, aku tuh kepikiran terus, seperti:

    "Eh ini bakal kepake ga ya sama dia?"

    "Eh ini aku kasih ke dia, kira-kira dia akan suka apa ga ya?"

    Tapi buru-buru aku tepis pikiran itu..

    Jadi tiap kali aku kasih barang ke orang, aku berdoa semoga barangnya nanti dia suka dan bermanfaat 😊

    BalasHapus
  6. Bagus kak tulisannya, jadi ingin mencoba metode beres2nya seperti marie kondo...

    BalasHapus
  7. "ce, saya sudah coba ovennya gak bermasalah"... Lalu masalahnya dimana?

    Wkwkwkwk....
    Colek dulu cooking class 😉

    BalasHapus
  8. aku sering banget lihat oven ini wara wiri di IG, mbak. tanya nih ya, kalau buat orang newbi banget tentang baking dan roti kayak aku, masih aman kan ya? hihihi. takut beli barang mahal, tapi enggak bisa pakai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg pasti oven ini ga ada pengatur suhunya, dia makin lama makin panas. Jadi kamu harus bs kira2 sendiri. Aku sih ga bs pakai oven ini makanya ku jual 😁

      Hapus
  9. Seperti itulah jodoh kak, akan nyaman berada di samping pasangan yg tepat, pun dengan oven akan bermanfaat di tangan yang tepat.. 🤭🤭

    BalasHapus
  10. Yg bikin penuh tuh kadang kardus2 bekas perabot juga numpuk hahaha aku ladang sampe lupa kenapa ngimpulin kardus2 ini padahal perabotnya udh nangkring di rak sejak lama. Boleh di terapin nih marie kondo buat di dapur..

    BalasHapus
  11. Mungkin perlu kesabaran dikit lagi untuk memahami ovennya, Ce. Tapi, nggak papa sekarang udah baik-baik dengan pemilik barunya. Makasih ya Ce, lewat tulisan ini jadi ingetin aku untuk mulai meryotir, barangkali ada barang yang justru bermanfaat banget untuk orang lain -Ami-

    BalasHapus
  12. Iya ya terkadang barang yang kita punya kalau dijual/dikasih ke orang lain malah bisa lebih bermanfaat. Ini mirip kaya dulu aku punya banyak baju gamis. Aku ga suka pake gamis karena menurutku repot. Akhirnya aku kasih ke sepupu yg emang dia suka gamis karena tuntutan pekerjaan juga. Alhamdulillah dia seneng aku juga lega jadi ga mubadzir

    BalasHapus
  13. Ikut senang bacanya oven yang terlantar jadi bermanfaat di rumah yang tepat, daripada di rumah kita teronggok saja mending dijual dan dimanfaatkan orang lain. Aku juga lagi senang merapikan dan mengurangi barang nih, biar rumah lebih lega ya..

    BalasHapus
  14. ya juga ya mba, tidying up itu ga melulu buat kepentingan sendiri biar ruangan kita jadi keliatan lebih luas dan ringkes. tapi lebih ke "memindah-tempatkan" suatu barang agar fungsinya berjalan lebih maksimal. aku suka sih teori Marie Kondo ini :D

    BalasHapus
  15. iyaya susah pasti menjual barang-brang yang gak kepake,apalagi yang ada nilai historisnya. Tapi layak dicoba nih, mengingat bisa jadi barang tersebut jadi lebih meniliki nilai guna.

    BalasHapus
  16. Menginspirasi mbak tulisannyaa.. pastinya sedih ngelihat kalau ada barang dirumah yang bernilai tapi kalau kita tidak bisa pakainya juga sayang banget barangnya cuman jadi pajangan.. seneng deh kalau barangnya malah bisa terpakai dan bermanfaat untuk orang lain :D

    BalasHapus